The Construction of Negotiation for Social Harmony in Minangkabau West Sumatra Indonesia (Kontruksi Negosiasi Harmoni di Minangkabau Sumatera Barat Indonesia)

Silfia Hanani, Yusti Loviani, Ali Rahman, Bus tamar

Abstract


Minangkabau is one of the ethnic groups and also the name of their land in West Sumatra, Indonesia. To achieve harmonious life, Minangkabau people practice a negotiation tradition to solve problems and their interrelationship with other ethnic groups. Instead of a new invention, local elites have long-established this negotiation tradition since the declaration of adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (the custom-built upon Islamic law, Islamic law built upon the Quran) as the identity of Minangkabau people. This declaration of identity resulted from the negotiation between local elites and religious elites in the past when they made reconciliation to build harmony together. Thus, the philosophy of adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah is a symbol rather than peace because it was formulated after the negotiation process between local and religious elites to end the conflict between them. This negotiation has brought the agreement that guarantees living side by side in harmony and building Minangkabau together. Eventually, the negotiation tradition becomes a daily practice for the Minangkabau community in making every decision and resolving problems in the community. If the decision-making or problem-solving is not carried out through negotiation, it often leads to disharmony in society. The negotiation tradition in the Minangkabau community is strengthened by joint meetings in determining and deciding various issues in which every party in the forum deliberate in creating a mutually acceptable agreement. Understandably, harmonious life can be achieved in a society when negotiation is widely practiced. In the Minangkabau community, the negotiation tradition does not come on its own, but local and religious elites have developed for a long time.

Keywords: Negotiation; Minangkabau community; adat elites; religious elites;harmony

 

Abstrak

 

Minangkabau merupakan salah satu suku bangsa yang ada di Indonesia berada di Provinsi Sumatera Barat. Untuk kehidupan yang harmonis, masyarakatnya memiliki tradisi negosiasi dalam berbagai hal, tidak saja dalam menyelesaikan masalah tetapi juga dalam proses interelasi dengan etnik yang lainnya sehingga bisa hidup berdampingan dengan harmoni. Negosiasi ini tidak hanya terbentuk sekarang ini tetapi telah lama dibangun oleh elite-elite lokal, iaitu semenjak diikrarkannya adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah sebagai identitas Minangkabau. Ikarar identiti ini lahir dari negosiasi elite adat dengan agama pada masa lampau. Dimana elite adat dan elite agama berdamai untuk membangun keharmonian secara bersama. Jadi ikrar adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah ini merupakan simbol daripada perdamaian, karena ikrar ini muncul setelah kelompok elite adat dan kelompok elite agama bernegosiasi dalam suatu mesyuarat untuk mengakhiri konflik diantara mereka. Negosiasinya itu, melahirkan sebuah kesepakatan-kesepakatan yang menjamin hidup berdampingan dengan harmoni, sekaligus membangun Minangkabau secara bersama. Negosiasi itu pada akhirnya menjadi suatu keharusan dilakukan oleh masyarakat Minangkabau dalam membuat setiap keputusan dan juga dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam masyarakat. Jika negosiasi itu tidak dilakukan dalam menentukan berbagai keperluan maka sering terjadi ketidakharmonian ditengah-tengah masyarakat. Negosiasi dalam masyarakat Minangkabau diperkuat oleh berlakunya tradisi mesyuarat bersama dalam menentukan dan memutuskan pelbagai hal. Dimana dalam mesyuarat itu adanya pihak-pihak yang berkomunikasi untuk mewujudkan kesepakatan yang dapat diterima secara bersama. Dapat difahami, bahawa keharmonian itu wujud dalam sebuah masyarakat apabila ada dibangunkan negosiasi. Dalam masyarakat Minangkabau negosiasi itu tidak datang dengan begitu sahaja, tetapi telah dibangunkan sejak lama oleh kelempok elite agama dan kelompok elite adatnya.

Kata Kunci: Negosiasi; identitas Minangkabau; kaum adat; kaum agam; harmonisasi


Full Text:

PDF

References


Abdul A'la. 2008. Genealogi Radikalisme Muslim Nusantara: akar dan karakteristik pemikiran dan gerakan Kaum Padri dalam perspektif hubungan agama dan politik kekuasaan. Surabaya: UIN Surabaya

Abd Aziz Rekan, Tengku Sarina Aini Tengku Kasim & Yusmini Md Yusoff. 2019. The Role of Green Surau Concept towards Forming Sustainable Community in School. Akademika Journal Southeast Asia Sciences and Humanitie 89 (3): 99-111

Andri Ashadi. 2018. Relasi Antaretnik: Negosiasi Identitas Keislaman Orang Minang dan Kekristenan Orang Nias di Seberang Palinggam dan Sungai Buluh. Disertasi S3. Jakarta. UIN Jakarta

Aulia Rahmat. 2011. Reaktualisasi Nilai Islam Dalam Budaya Minangkabau Melalui Kebijakan Desentralisasi. Malang: Maulana Malik Ibrahim State Islamic University of Malang

Azyumardi Azra. 2017. Surau: Pendidikan Islam Tradisi dalam Transisi dan Modernisasi. Jakarta: Kencana.

Badan Busat Statisk, 2020. Sumatera Barat dalam Angka. Padang. BPS

Djokosurjo. 2001. Religion and Social Changes, A Study on The Relationship of Islam, Society, and Socio-political Structure in Indonesia. Yogyakarta: LPKSM.

Dove, M.R. 1988. Introduction: Traditional Culture and Development in Contemporary Indonesia. Honolulu: University of Hawai’i Press

Edi Utama. 2002. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. dalam Ahmad Baso, Plesetan Lokalitas: Politik Pribumisasi Islam. Jakarta: Desantara.

Hadler, J. 2010. Sengketa Tiada Putus: Matriarkat, Reformisme Agama, dan Kolonialisasi di Minangkabau. Jakarta: Freedom Institute

Ihsan Sanusi. 2018. Sejarah Konflik Kebangkitan Islam Di Minangkabau: Sebuah Tinjauan Awal Terhadap Proses Kemunculannya. Khazanah: Khazanah Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam 8 (15): 33-48.

Kahn, J.S. 1993. Constituting the Minangkabau: peasant, culture and modernity in colonial Indonesia. Berg: Providence/Oxford.

Mami Nofrianti & Jamal Mirdad. 2018. Wacana Religio-Intelektual Abad 20: Dinamika Gerakan Kaum Tuo dan Kaum Mudo di Minangkabau. Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam 8(16): 43-54.

Muhammad Yudhis Febriansyah. 2014. Perkembangan kerajaan Pagaruyung di Luhak Tanah Datar, Sumatera Barat (1349-1809). Disertasi S3. Medan :Universitas Medan.

Piki Setri Pernantah, Sariyatun & Warto. 2018. Integration Sumpah Satie Bukik Marapalam Values in Historical Learning Through Problem-Based Learning. International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, 5(3), 28-34.

Ruhaizah Abdul Ghani & Jaffary Awang. 2020. Tasamuh Versus Tolerance as Practical Approach to Encounter the Conflicting Issue (Perbandingan Tasamuh dengan Toleransi sebagai Pendekatan Praktikal Menangani Isu Konflik). Akademika: Journal Southeast Asia Sciences and Humanities 90(1): 15-23

Sefriyono. 2015. Malakok: Model Menegosiasikan Keragaman bagi Etnis Nias-Kristen dan Minangkabau-Islam di Kabupaten Padang Pariaman. Turast: Jurnal Penelitian dan Pengabdian, 3(2), 199-212.

Sidik Tono, M Roem Syibly, Amir Mu'allim, Ahmad Nurozi, & Muhammad Roy Purwanto. 2019. The Harmonious Relationship Between Minangkabau Custom And Islam In The Distribution Of Inheritance. Al-Shajarah: Journal of the International Institute of Islamic Thought and Civilization. (Special Issue):39-55

Silfia Hanani. (2002). Surau Asert Lokal Yang Tercecer. Bandung. PT. Humaniora. Bandung: Humaniora Utama.

Silfia Hanani. 2006. Peran Ulama dalam penyebaran Islam. Kuala Lumpur: Karyanet dewan Bahasa Dan Pusataka.

Silfia Hanani & Rahimah Abdul Aziz. 2009. Rekonstruksi dan usaha penyelamatan tradisi lokal era pasca sentralisme di Indonesia. Geografia: Malaysian Journal of Society and Space, 5(2), 68-81.

Ury, R. F. W., & Patton, B. 2020. Getting to yes. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Ting-Toomey, S. 1999. Communicating Across Culture. New York. The Guildford Press.

Titin Fatimah & Henki Andora. 2010. Pola penyelesaian sengketa tanah ulayat di Sumatera Barat (sengketa antara masyarakat dengan investor). Jurnal Ilmu Hukum, 5(1), 11-28.

Yanti Mulia Roza, 2020. Konflik dan Akomodasi Antara Adat dan Agama: Dengan Pemerintah di Sumatera Barat Tahun 1999 hingga 2015 (Studi Kasus Kabupaten Tanah Datar). Disertasi S3. UIN Jakrta

Yasrul Huda. 2008. Islamic Law Versus Adat: Debate about Inheritance Law and the Rise of Capitalism in Minangkabau. Studia Islamika, 15(2)

Wan Ahmad Fauzi Wan Husain, Anisah Che Ngah &Mohamed Anwar Omar Din. 2017. Islam Agama Bagi Persekutuan: Satu Kajian Sejarah Perundangan (Islam as The Religion of The Federation: A Study of Legal History). Akademika: Journal Southeast Asia Sciences and Humanities 87(3). 177-193

Zaiyardam Zubir & Nurul Azizah Zayzda. 2017. Peta

Konflik dan Konflik Kekerasan di Minangkabau

Sumatera Barat. Masyarakat Indonesia: Jurnal Ilmu-

Ilmu Sosial Indonesia 36(1): 53-75


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


ISSN: 0126-5008

eISSN: 0126-8694